Selasa, 23 Agustus 2016

Sosialisasi Vs Aksi

Menangin kompetisi? Siapa yang engga mau?
Pertanyaan retoris seperti itu memang tidak perlu dijawab. Hampir setiap orang tentu ingin mengecap sebuah kemenangan baik dalam suatu kompetisi ditingat lokal bahkan internasional. Tapi seberapa besar effort yang sudah dikerjakan? Sudahkah para tribute ini mempersiapkan kemenangan sedari awal? Sudahkah mereka belajar mengenali lawan dan memahami kemampuannya? Dan Apakah persiapan yang mereka lakukan didukung penuh oleh instansi tempat mereka berdiri? Jawabannya ada yang sudah ada yang belum.
Suatu perguruan tinggi terkadang memiliki ambisi yang besar untuk mengirim mahasiswanya mengikuti berbagai kompetisi yang "dianggap bergengsi" sehingga berusaha mencurahkan perhatian dan bahkan mengucurkan dana yang tidak sedikit. Tapi, apakah semua itu lantas dapat mewujudkan mimpi menjadi juara? Belum tentu.Sekarang ini jamannya kerja cerdas. Tak semua keberhasilan dapat diperoleh karena uang.
Aku ingin bercerita tentang salah satu olimpiade karya tulis nasional "bergengsi" yang pernah aku ikuti. Selama mengikuti berbagai event kompetisi karya ilmiah, baru disini aku merasakan atmosfir campur aduk dan sama sekali berbeda. Selama ini ketika mengikuti suatu kompetisi karya tulis/ilmiah, aku selalu mersa kesulitan masalah pembiayaan baik untuk akomodasi maupun logistik dan administrasi. Tapi dalam olimpiade ini, seluruh perkara finansial clear. Selain itu, dalam kompetisi lain selalu saja ada permasalahan mengenai perijinan, kemudian persiapan keberangkata, pembekalan dan lain-lain. Namun, masalah-masalah itu sama sekali tak kutemukan dalam kompetisi ini. Kemudian dalam hati aku bertanya. Sebegitu spesialnya kah kompetisi ini? Jawabannya Ya.Kompetisi ini ternyata merupakan ajang "pamer" kemampuan perguruan tinggi dalam mencetak mahasiswa yang "berkualitas". Standarnya  jelas Emas, Perak, dan Perunggu. Selain para champion, ya cuma jadi seperti aku, cuma jadi "Penggembira". Malu? Jelas. Wong ini kompetisis "bergengsi" lhooo
Nah dari hasil yang menurutku cukup mengecewakan tersebut, lantas apa yang kami lakukan? Evaluasi. Yup betul sekali. Lalu apa lagi setelah evaluasi? Aksi. Hmmm? No. Kami selalu merancang sosialisasi. Roadshow ke fakultas-fakultas, cerita-cerita penalaman, kasih kisi-kisi biar lolos, begitu terus bertahun-tahun selalu menjalani ritual yang sama. Padahal ketimbang sekadar sosialisasi kami lebih membutuhkan yang namanya aksi. Untuk menjadi juara dalam apapun kompetisisnya, butuh kerjasama antar perguruan tinggi dan juga mahasiswa. Mahasiswa ingin bergerak maju, maka perguruan tinggi siap mendorong baik dari segi moral maupun finansisal. Moral misalnya dalam proses pembekalan dan pelatihan, datangkan para ahli yang ada di perguruan tinggi, gembleng mental mahasiswa, pancing ide-ide kreatif mahasiswa, bimbing lalu beri kepercayaan. Secara finansial ya sudah jelas, siap keluar uang (jangan cuma dianggarkan buat rapat, rapat, dan rapat di hotel-hotel mewah). Dukung mahasiswa yang ingin mngeksplorasi idenya baik lewat tulisan maupun penelitian. Beri reward bagi keberhasilan mahasiswa baik dalam bentuk barang maupun kemudahan. Hal ini akan mendorong mahasiswa lain ikut berkompetisi.
Sayangnya selama ini, "Aksi" dari mahasiswa dan perguruan tinggi tidak berjalan beriringan tapi saling berpotonga. Selalu saja ada alasan mahasiswa untuk malas bergerak karena rumitnya birokrasi,sedangkan disisi lain, perguruan tinggi juga lelah dengan ketidak kosistensian mahasiswa. Lalu bagaimana?
Semua terletak pada "telinga" masing-masing. Baik perguruan tinggi maupun mahasiswa harus mau mendengarkan aspirasi satu sama lain. Perguruan tinggi mendengar keluh kesah dan permohonan mahasiswa sedangkan mahasiswa mau mendengarkan keinginan perguruan tinggi. Selanjutnya sikap saling dukung dan terbuka lah yang dapat menjadikan aksi ini memberikan hasil yang nyata. Selamat mencoba!

Senin, 22 Agustus 2016

Mendengar Apa Kata Mereka

Sering kali aku merasa bahwa apa yang aku lakukan sudah benar. Selama tidak melanggar aturan aku anggap semua baik-baik saja. tapi ternyata, sekecil makan bersama teman-teman laki-laki pun menjadi sorotan dan dianggap kurang pantas. Padahal hal ini aku lakukan dalam kondisi diruang terbuka dan forum umum.
Banyak hal yang kita lakukan terkadang menjadi sebuah sorotan. Sehingga mungkin ada yang menjelek-jelekan kita akibat sikap kita namun ada pula yang secara terang-terangan menghujat kita. Tapi beruntunglah bagiku, ada yang masih mau menasihatiku secara langsung meski dalam ungkapan tanya yang tersirat. But, Hei buddy, I know what you mean. Meski sedikit tersentak, tapi aku mencoba mengerti apa yang kamu lakukan adalah karena kamu peduli. Thanks a lot.
Sebagai wanita yang dilahirkan ditengah keluarga berdarah jawa dan beragama islam. Aku merasa banyak hal yang masih belum aku pelajari. Aku merasa bodoh dan awam. Kebebasan yang orang tuaku berikan, pada dasarnya memberiku kesempatan untuk mengeksplorasi lebih jauh pergaulan remaja zaman sekarang yang penuh hingar bingat dan kesenangan duniawi. Tapi aku memilih membatasinya. Namun ternyata, batas-batas yang ku berikan masih dipandang bebas oleh sebagian orang. Tak apa. Tentu saja tiap manusia ada saja kurangnya.
Secuil hal kecil yang aku lakukan yang menjadi sebuah pertanyaan malah mengukuhkan parameter "pantas dan tidak pantas" yang sesuai dengan norma maupun agama yang kuanut. Malu memang rasanya ketika diberi sebuah "teguran", tapi akan lebih memalukan jika aku melakukan hal yang kebablasan. Meskipun aku adalah manusia keras kepala dan penuh dengan keyakinan terhadap diri sendiri, tapi kekritisanku terhadap segala hal menuntunku melihat sesuatu dari berbagai sisi. Begitupun tentang penilaian orang lain padaku maupun sebaliknya. Beruntung aku tak pernah mematok standar "benar dan salah" secara saklek. Aku sangat fleksibel terhadap beberapa hal tapi juga sangat menjaga prinsip dasar.
Hingga kini, beginilah yang aku yakini, tapi bisa jadi suatu hari akan ada perubahan yang berarti. Untuk mencapai perubahan yang lebih baik, aku harus mencari lingkungan yang baik. Dan untuk menemukan lingkungan yang baik aku harus mau berbaur dan mendengarkan nasihat orang-orang baik.

"Dunia sudah terlalu bebas, sekarang bukan saatnya berjuang menentang batas kebebasan tapi membatasi kebebasan itu sendiri!"

Kamis, 18 Agustus 2016

Berdampingan Dengan Mimpi


For me, Life is real, but I realize that I will never through anything in my life without a dream.
Aku adalah manusia pemimpi yang tak bisa seharipun bergerak tanpa memikirkan mimpi-mimpiku. Entahlah tapi sepertinya kebiasaanku itu sudah sejak lama sekali. Berkhayal dan bermimpi sudah menjadi bagian dari hidupku. tapi bagaimana kalau ternyata khayalan dan mimpi itu bisa terwujud?
Kuliah adalah salah satu mimpi terbesar dalam hidupku. Betapa tidak, aku hidup dikeluarga yang pas-pasan. Punya dua orang adik yang juga masih sekolah memaksaku untuk berpikir puluhan kali untuk sekolah lagi selepas tamat SMA. Tapi apalah artinya mimpi tanpa usaha. Meski dalam kondisi yang kekurangan akhirnya kuputuskan untuk melanjutkan sekolahku ke perguuruan tinggi.
Alhamdulillah, kupanjatkan puji syukur ke hadirat Allah subhanahu wata'ala, I made it. Aku berhasil masuk ke salah satu perguruan tinggi terbaik di Indonesia dengan beasiswa. Awal masuk kuliah bukanlah hal yang mudah. Aku sempat berpikir kalau aku salah jurusan. Rasanya sulit sekali untuk bertahan. Aku lelah dan ingin sekali menyerah. Tapi logikaku menahan pemikiran bodohku. Aku sudah berjuang mati-matian untuk bisa kuliah, masa mau menyerah?. Akhirnya ku mantapkan hatiku untuk bertahan dan menjalani semuanya dengan ikhlas. Alhasil, everything goes better. Aku mulai bisa beradaptasi, meski bukan menjadi mahasiswa ber-IP tinggi, aku tetap bisa mengikuti sistem pembelajaran di kampus. Selain itu, aku juga mulai ikut organisasi dan mencoba menjajal kemampuanku untuk riset dan menulis karya tulis serta paper. Hingga akhirnya berkat rahmat Allah, aku bisa memenangkan suatu kompetisi karya tulis dan juga berhasil ikut Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional ke 29. Bangga? Tentu. Puas? No!. Aku terciptas sebagai "Si Ambisisus", kata Puas tak pernah terbesit dalam pikiranku. Aku selalu haus dan lapar, itulah mengapa aku selalu ingin melanjutkan pencapaian mimpiku, yaitu Kuliah ke Luar Negeri. Gila? Bisa jadi. Hahahaha... dengan kemampuanku yang tidak terlalu istimewa, mimpi kuliah ke luar negeri seperti suatu kesemogaan yang sulit dikabulkan. Tapi aku mulai membangun keyakinanku "Tak ada kemustahilan jika kita serahkan kehendak di tangan Tuhan". Seperti dahulu aku percaya pertolongan Allah yang telah membawaku sejauh ini, maka aku juga percaya bahwa Allah akan menolongku untuk melangkah lebih jauh lagi.
Sungguh, tak ada yang rugi ketika kita hidup berdampingan dengan mimpi.

Minggu, 13 Maret 2016

Who will motivate me?

Who will motivate me?


Siapa yang peduli sama mimpimu kalo bukan dirimu sendiri. Cuma bisa ketawa aja kalo ngeliatin tulisan-tulisan didinding. Aku orang yang paling susah termotivasi cuma gara-gara tulisan. Tapi jangan salah, I really love reading a book. Mulai dari Novel, motivation book, historical book, buku filsafat, dan masih banyak lagi. Orang yang susah termotivasi cuma dengan tulisan sepertiku malah suka baca buku. Why? karena aku bisa memotivasi diriku sendiri. Allah memotivasi diriku bukan lewat apapun tapi lewat diri sendiri. Jadi setiap kali baca buku aku pasti baca betul-betul. mana nasihat yang realistis dan relevan akan coba aku pikirkan dalam-dalam, kalau aku yakin bisa melakukannya, I will take a step. Tapi kalau kukira mustahil. I will still take a step, but a back step, ahahaha..

Tapi aku mulai mencoba berubah (tentunya kearah yang lebih baik). Aku membuat tulisan-tulisan penggugah semangat untuk diriku sendiri. Mungkin efek motivasainya nggak akan lama (aku pun udah menduga), but as a reminder, it works. Tulisan-tulisan itu membuatku ingat bahwa aku masih punya target, punya mimpi yang belum tercapai. So, sekarang aku merasa aku melangkah dijalan yang lebih pasti. Thanks to God